|
Di antara berbagai teknik yang ada, dianetik merupakan salah satu
alternatif. Teknik ini didasarkan pada anggapan bahwa prinsip dinamika keberadaan
manusia adalah pertahanan hidup (survival). Tujuannya adalah membantu Praclear
( survivor) menjadi “Clear”. Yaitu, kondisi individu yang optimum. Tidak
mengalami repressi , bertindak berdasarkan self deterministik , memiliki
kemampuan untuk menanggapi, recall, return, berimajinasi, mencipta dan
memperhitungkan sesuatu. (L.Ron Hubbard, 1999).
Tulisan ini akan membahas secara umum beberapa bentuk stressor traumatis,
konsep dasar dianetik, prosedur dianetik dan perbandingannya dengan konseling
trauma.
I. Stressor Traumatis
Seseorang dalam perjalan kehidupannya tidak selamanya bebas dari stres.
Berbagai peristiwa kehidupan dapat menjadi stressor psikososial yang berdampak
pada trauma mental sehingga muncul gangguan kecemasan, depressi, psikosis
hingga tindakan bunuh diri. Trauma mental yang diakibatkan stres ini dapat
berlangsung seumur hidup bila tidak segera diobati.
Beberapa peristiwa kehidupan yang dapat menjadi stressor traumatis (Dadang
Hawari, 2001) : 1)Kerusuhan bernuansa sara, seperti yang terjadi di Sambas
Kalimantan Barat (1977), di Ambon/Maluku (1988), di Poso (1999), di
Sampit/Palangkaraya (2001). 2) Pengungsian. Kerusuhan antara kelompok dapat
mengakibatkan banyak warga yang harus meninggalkan tempat tinggalnya sebagai
pengungsi. Hidup di pengungsian yang berkepanjangan dan tidak berketentuan masa
depannya akan menimbulkan stres mental yang cukup berat dan trauma tersendiri
menyusul trauma yang dialami sebelumnya pada waktu terjadinya kerusuhan. 3)
Demo anarkis. Demonstrasi damai yang disusupi provokator membuat sebagian
massa lepas kendali dan melakukan tindakan anarkis seperti pengrusakan,
penjarahan dan pembakaran. Anggota masyarakat yang menjadi sasaran atau korban
tindakan anarkisme itu tercekam jiwanya dan hidup serba ketakutan karena
ancaman ketentraman hidupnya. 4) Huru hara. Peristiwa Mei (1998) merupakan huru
hara yang hampir merata di seluruh kota Jakarta, yang terjadi menjelang
berakhirnya Orde Baru. Dalam peristiwa ini terjadi pengrusakan, penjarahan dan
pembakaran milik warga etnis tertentu, bahkan sampai pada perkosaan. Bagi warga
yang mengalami dan menjadi korban peristiwa itu banyak yang menderita
gangguan jiwa selain kehilangan harta benda. Bahkan cukup banyak yang berobat
ke luar negeri dan tidak mau kembali ke Indonesia karena masih tercekam trauma.
5)Penculikan. Peristiwa penculikan baik yang bermotif politis, kriminal maupun
alasan keamanan karena dianggap membahayakan pemerintah merupakan bentuk
pelanggaran HAM. Banyak di antara mereka yang diculik mengalami siksaan fisik
dan mental sampai pada kematian. Bagi korban penculikan yang hidup, peristiwa
yang dialaminya itu lebih merupakan penderitaan psikologis daripada fisik atau
dengan kata lain penculikan itu lebih merupakan trauma mental daripada trauma
fisik. 6)Penyanderaan. Peristiwa penyanderaan baik yang bermotif politis maupun
kriminal, akan menimbulkan stres mental berat manakala si pelaku melakukan
teror atau ancaman terhadap korban bilamana tuntutannya tidak dipenuhi. Misalnya, pembajakan pesawat terbang komersial oleh
kelompok teroris yang mengancam akan membunuh para sandera bila tuntutannya
tidak dipenuhi.Ketegangan mental para sandera akan bertambah bila menyaksikan
salah seorang di antara mereka di bunuh. Selama masa penyanderaan merupakan
masa tercekam dan menegangkan sambil menunggu saat pembebasan. Meskipun mereka
dapat diselamatkan dari penyanderaan namun peristiwa penyanderaan yang
dialaminya itu akan terekam dalam ingatannya yang sukar dilupakan. 7)Kekerasan.
Bagi mereka yang mengalami dan menjadi korban kekerasan, baik yang bersifat
individu apalagi kelompok akan mengalami kecemasan dan ketakutan yang amat
sangat dan sukar terlupakan. Peristiwa kekerasan itu menyebabkan obsesi dalam
alam pikirannya yaitu keterpakuan (persistence) dan berulang kali muncul
(recurrent) terhadap peristiwa yang dialaminya. 8)Peperangan, selalu disertai
dengan tindak kekerasan, perkosaan bahkan sampai kepada pembunuhan terhadap
mereka yang tidak berdosa. Kekerasan yang terjadi selama perang merupakan
pelanggaran HAM berat. Diberlakukannya DOM (daerah Operasi Militer) di Aceh
selama pemerintahan Orde Baru ternyata banyak warga Aceh yang bukan anggota
tentara GAM menjadi korban karenanya, sehingga terdapat banyak janda, anak
yatim dan anak-anak lahir dari hasil perkosaan. Mereka yang mengalami trauma
mental karena menyaksikan ayah/suami dibunuh atau ibu/istri di perkosa di
hadapan mereka. 9) Kriminalitas. Tindakan kriminalitas dewasa ini seringkali
disertai dengan kekerasan yang banyak terjadi khususnya di kota-kota besar
seperti Jakarta, Medan, surabaya dan lain-lain. Sebagai contoh, perampokan
tidak hanya harta benda yang dijarah tetapi penghuninya seringkali dianiaya,
diperkosa bahkan sampai dibunuh. Perampokan juga terjadi di jalan raya yang
dilakukan oleh kelompok penjahat yang dikenal kampak merah atau orang lain yang
bersenjata api. Mereka yang menjadi korban tindak kriminal sebagaimana contoh
di muka dapat menderita stres mental karena pengalaman yang traumatis tadi.
10)Perkosaan. Kasus perkosaan akhir-akhir ini semakin meningkat dan yang
menjadi korban pada umumnya kaum perempuan yang baik-baik dan berbusana tidak
seronok. Dari pengamatan ternyata pemicu perkosaan adalah pornografi dan NAZA.
Perkosaan setelah membaca atau melihat gambar/tayangan pornografi dan atau
mengkonsumsi NAZA akan kehilangan kendali diri sehingga dorongan-dorongan
agressivitas dan seksual yang ada pada dirinya tidak lagi mampu dihambat.
Korban perkosaan akan mengalami trauma mental yang berlanjut pada gangguan jiwa
bahkan ada yang melakukan bunuh diri. 11) Kecelakaan. Kecelakaan transportasi
baik di darat, di laut maupun di udara banyak terjadi karena kesalahan manusia
(human eror), kesalahan teknis atau alat transportasi yang tidak layak pakai.
Korban akan mengalami ketegangan mental menjelang akan terjadinya kecelakaan
itu bila mana yang bersangkutan sudah mengetahui apa yang akan terjadi, atau
korban akan mengalami keterkejutan manakala tiba-tiba terjadi kecelakaan
sementara yang bersangkutan tidak menyadari sebelumnya, kedua hal tersebut di
atas akan menimbulkan shock mental bagi yang mengalaminya. 12)Bencana Alam.
Seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin puyuh, gunung meletus dan
lainnya tidak hanya memporak porandakan sarana dan prasarana tempat pemukiman,
gedung-gedung, jalur hubungan darat dan telekomunikasi, tetapi juga korban
jiwa. Bagi mereka yang selamat, peristiwa bencana alam itu bukan merupakan
bencana yang sifatnya fisik dan harta benda saja, tetapi lebih pada trauma
mental yang tidak mudah dilupakan.
Reaksi
umum psikologis terhadap stressor dimunculkan dalam beberapa gejala seperti
yang dituliskan oleh Kelompok Pelayanan Kesehatan Mental Terkait Bencana Alam
dan Trauma, Bandung 2005, antara lain : 1) Dampak emosional. Ditandai dengan
perilaku : terkejut, marah, sedih, mati rasa, merasa dihantui, bersalah, duka
yang mendalam, terlalu perasa, merasa tidak berdaya, bebal dan tidak lagi mampu
merasa senang serta bahagia dengan aktivitas sehari-harinya. Disosiasi, berupa
keberulangan dalam pikiran tentang bencana yang telah terjadi, merasa terpaku
dan dikendalikan oleh kejadian-kejadian atau keterpakuan bencana. 2) Dampak
fisik : kondisi fisik sangat lelah, sulit bahkan tidak bisa tidur, gangguan
tidur, sangat mudah tersentuh perasaan dan ingatan, keluhan-keluhan yang
mengarah pada gangguan syaraf, sakit kepala, reaksi-reaksi yang menggambarkan
kegagalan dalam sistem kekebalan tubuh, buang air kecil, libido meningkat atau
justru menurun drastis.3) Dampak kognitif : sulit atau tak bisa lagi
berkonsentrasi, tidak mampu membuat keputusan-keputusan, gangguan dalam
mengingat, sulit mempercayai informasi-informasi, kebingungan, menyalahkan diri
sendiri, khawatir atau cemas, perhatian mudah teralihkan.4) Dampak relasi
dengan orang lain : membatasi dan menarik diri dari pergaulan, menghindar dari
relasi-relasi sosial yang ada, meningkatnya konflik dalam hubungan dengan orang
lain, keikut sertaan dalam suatu pekerjaan/sekolah dan prestasi menurun.
Secara
khusus, bentuk-bentuk reaksi umum pada anak-anak dapat dikenali dengan
beberapa gejala sebagai berikut. 1) Usia 1-6 tahun : tidak berdaya dan pasisf,
kurang tanggap, ketakutan dalam banyak hal, mudah bingung, sulit/lambat
berpikir, sulit mencari kata-kata untuk mengungkapkan kejadian, sulit
merumuskan perasaan, mimpi buruk, sulit tidur, takut tidur sendiri, gejala
regressi ( ngompol,hilangnya kemampuan berbicara, tidak terampil menggunakan
motorik, ketidak mampuan memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen,
kecemasan akan kematian, dukacita, gejala somatik (sakit perut, sakit kepala),
reaksi bengong pada suara-suara keras, ketidak mampuan bergerak tiba-tiba,
menangis tanpa sebab, menolak melihat atau mendengar hal-hal yang berkaitan
dengan trauma. 2) Usia 6-11 tahun : menceritakan berulang-ulang kejadian yang
menakutkan/menyedihkan, mimpi buruk, takut tidur sendiri, mudah khawatir/gelisah
dan selalu berpikir tentang bahaya yang mengancam, takut untuk menghayati
perasaan atau reaksi yang berkaitan dengan kejadian, sangat terpengaruh dengan
kecemasan orang tua, penolakan terhadap sekolah, khawatir akan keselamatan
orang lain, menunjukkan beberapa perubahan tingkah laku, suasana hati dan
kepribadian/sifat, gejala somatik ( sakit perut, sakit kepala , sakit badan
lainnya, ketakutan dan kecemasan pada hal-hal di sekitarnya, menarik diri,
regressi, cemas karena terpisah dari pengasuh, tidak mau ikut kegiatan, bingung
dan sulit mengerti tentang kejadian yang dialami, tidak bisa paham tentang
kematian bencana/musibah, menghayal dan mencoba memahami kejadian yang
menimpanya, hilangnya kemampuan untuk berkonsentrasi di sekolah dan prestasi
cenderung menurun, tingkah laku yang kacau, terganggu atau membingungkan.
Bentuk
bentuk reaksi stres spesifik terhadap stressor dapat dibagi atas
tahapan-tahapan. 1) Tahap Emergency . Sejak 1-4 hari. Reaksi
stres ekstrim sekitar trauma. Ciri umum : gejala-gejala yang meuncul selama
atau segera setelah pengalaman bencana.2) Early post impact. Sejak 2hari – 1
bulan. Gangguan stress akut. Ciri umum : berkembangnya kecemasan, dissosiasi
dan symptom lain yang muncul dalam masa sebulan (2 hari hingga 4 minggu setelah
kejadian bencana).3) Restoration. Mulai
bulan ke dua. Gangguan stres pasca trauma. Respon stres traumatik yang bertahan
lama.
II. Dianetik
Dianetik berarti melalui pikiran atau ingatan. Dikemukakan oleh L.Ron
Hubbard pada tahun 1950. Seorang
yang berjiwa sosial, ahli filsafat dan ilmuwan yang menemukan dan mengembangkan
beberapa teknologi mengenai alam pikiran. Menurut Hubbard, pikiran merekam dan menyimpan setiap peristiwa di
dalam kehidupan. Rekaman ini ada dalam bentuk gambar-gambar mental. Setiap
pengalaman yang dialami terekam di alam pikiran dan tersimpan dalam
bentuk gambar-gambar mental . Setiap gambar memiliki data yang ada pada saat
itu.
Dianetik didasarkan pada tiga konsep dasar yaitu tujuan hidup
manusia, alam pikiran sebagai sumber penyakit mental dan terapi.
a. Tujuan hidup manusia
Alam semesta mengandung waktu, ruang, energi dan kehidupan. Bermula dari
satu titik asal dan diperintahkan untuk berjalan ke suatu tujuan yang
hampir tidak terbatas. Keempatnya hanya memperoleh perintah mengenai apa yang
harus dilakukan yaitu “ Bertahanlah untuk hidup!”.Tujuan hidup dapat dianggap
sebagai suatu perjuangan yang tidak terbatas untuk bertahan hidup. Manusia
sebagai satu bagian hidup dalam semua tindakan dan tujuannya akan mematuhi satu
perintah “ Bertahanlah untuk hidup”. Bertahan hidup adalah menjauhi
kematian dan memperoleh keabadian. Kebutuhan menuju kesenangan adalah suatu
dinamika. Kesenangan adalah hadiahnya. Usaha pencarian hadiah tersebut yaitu
bertahan hidup adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Penurunan potensi untuk
bertahan hidup akan mengakibatkan penderitaan. Penderitaan dibuat agar individu
menjauhi kematian. Kesenangan dibuat untuk menarik individu ke arah kehidupan
yang optimal. Kesenangan adalah gratifikasi : emosi yang diinginkan, secara
mental maupun fisik; kenikmatan sementara; lawan dari penderitaan. Penderitaan
adalah adalah kesengsaraan fisik dan kesengsaran mental.
Tujuan “bertahanlah hidup” memiliki dinamika tunggal yang terdiri terdiri
empat bagian kekuatan : 1) Dinamika satu : dorongan untuk bertahan hidup bagi
individu sendiri.2) Dinamika dua : dorongan untuk menuju keabadian melalui
anak-anak dan keturunan termasuk di dalamnya bertahan hidup melalui kegiatan
seksual. 3) Dinamika tiga : dorongan bagi individu ditinjau dari sudut pandang
kepentingan kelompok di dalamnya termasuk sebuah club, kesatuan militer,
kota, negara.4) Dinamika empat mencakup dorongan bagi individu menuju keabadian
ras manusia secara keseluruhan. Keempat dinamika ini sama kuatnya. Semua tujuan
hidup manusia dianggap berada dalam spektrum ini .
Prestasi tertinggi manusia adalah ketika dapat menyelesaikan sebuah
persoalan dengan menguntungkan keempat dinamika tersebut. Meskipun mengorbankan
satu orang untuk eksperimen medis masih dapat diterima bila hasilnya dapat
membawa kebaikan kepada kehidupan seluruh ummat manusia.
Tujuan mutlak pertahanan hidup adalah keabadian atau pertahanan hidup yang
tidak terbatas. Imbalannya adalah kesenangan. Hukuman atas kegiatan yang
merusak adalah kematian yaitu keadaan dimana ia sepenuhnya tidak dapat bertahan
hidup. Hukuman itu adalah penderitaan/nyeri.
2. Alam pikiran analitik dan reaktif
Alam pikiran terdiri dari alam pikiran analitik dan alam
pikiran pikiran reaktif.
a. Alam pikiran
analitik
Pikiran analitik
memiliki monitor yang berfungsi sebagai pusat kesadaran (awareness) dan
mengendalikan alam pikiran. Alam pikiran analitik merekam dan menyimpan ribuan gambar setiap jam dalam
kehidupan dengan cara yang sama seperti komputer merekam dan menyimpan data.
Gambar-gambar ini direkam dalam urutan waktu dari saat pertama kehidupan sampai
akhir hayat. Alam pikiran analitik memiliki bank memori standar. Agar bisa
beroperasi, alam pikiran harus memiliki data tanggapan (percepts) yaitu sensasi
atau kesan yang dapat dikenali yang diterima oleh pikiran melalui panca
indra. Setiap tanggapan tunggal akan disimpan sebagai sebuah konsep yang
diibaratkan seperti arsip yang disimpan dalam bank-bank standar .
Arsip-arsip ini dimulai sejak di dalam kandungan dan terus bertambah terus
secara berurutan selama hidup termasuk pada saat tidur kecuali pada momen
ketidak sadaran (unconsciousness) yaitu pada saat pengurangkenalan, penurunan
daya kerja alam pikiran analitik. Jumlah materi yang tersimpan dalam bank
memori standar ini ibaratnya disimpan di dalam beberapa perpustakaan dengan
metode penyimpanan yang sama, sehingga potensi recallnya (pengingatan kembali)
adalah seratus persen. Sumber error dalam kumputasi “rasional” muncul akibat data
yang tak cukup atau data yang salah. Alam pikiran analitik akan memeriksa dan
membandingkan pengalaman baru dengan pengalaman lama, membentuk kesimpulan baru
berdasarkan kesimpulan lama, mengganti kesimpulan lama dan selalu sibuk
berupaya agar tetap benar.
b. Alam pikiran reaktif
Alam pikiran reaktif bereaksi atas individu dan menyebabkan individu
bereaksi dan bukan menghadapi permasalahan secara rasional. L.Ron Hubbard
menemukan bahwa pikiran reaktif beroperasi di bawah kesadaran seseorang dan
memiliki kekuatan untuk menggeser pikiran analitik (pikiran rasional). Pikiran
reaktif beroperasi atas dasar responsif akan stimulasi. Pikiran reaktif tidak
berpikir tetapi hanya bertindak. Bekerja hanya
berdasarkan responsif atas stimulasi. Alam pikiran reaktif memiliki bank engram
yaitu penampungan data yang bertugas melayani alam pikiran reaktif. Pada
saat terjadi ketidak sadaran maka terjadi kekosongan pada alam pikiran
analitik, misalnya, akibat anestesi, obat-obatan, cedera atau kejutan. Semua
data yang tidak terekam pada bank standar akan tersimpan di dalam bank engram.
Emosi yang menyakitkan, nyeri (rasa sakit) fisik tersimpan dalam bank engram.
Alam pikiran reaktif adalah sumber semua aberasi (pemikiran irrasional). Alam
pikiran ini menghalangi recall pendengaran, membuat orang tuli nada,
mengakibatkan gagap, alergi, sinusitis, masalah jantung, darah tinggi, penyakit
somatik termasuk pilek. Alam pikiran yang membuat perang sebagai sesuatu
yang menakutkan, mengakibatkan anak-anak kecil menangis, menjadikan manusia
ragu dalam bertindak.
Bank reaktif tidak
menyimpan memori tetapi yang disimpan adalah engram yaitu rekaman lengkap,
sampai rinci sekecil-kecilnya atas tanggapan penglihatan, suara, bau,
pengecapan dan penginderaan organik dan lain-lain dalam satu momen ketidak
sadaran. Hubbard menggunakan kata engram sebagai sebuah jejak yang pasti dan
permanen yang ditinggalkan suatu stimulus pada protoplasma tissue. Engram dan
memori memiliki perbedaan yang jauh. Memori adalah semua konsep yang tersimpan
dalam memori yang dapat direcall kembali. Contohnya: suatu pemandangan yang
ditangkap oleh mata dan ditanggapi oleh indra lainnya, direkam dalam bank
memori dan kelak dapat direcall sebagai satu acuan. Pengalaman akan tersimpan
dalam memori. Engram bukanlah pengalaman. Engram adalah tindakan yang
diperintahkan. Engram adalah satu bentuk pertahanan hidup. Engram dapat melekat
ke setiap dan semua sirkuit tubuh secara permanen dan akan berperilaku sebagai
satu kesatuan. Engram memiliki sumber tenaga yang tidak ada habisnya untuk
mengendalikan tubuh dan bertambah kuat bila diaktifkan.
Terdapat tiga jenis
engram yang kesemuanya bersifat aberatif (irrasional). Pertama adalah engram
kontra-pertahanan hidup. Mengandung nyeri fisik, emosi yang menyakitkan serta
semua tanggapan dan tantangan lain terhadap organisma yang bersangkutan.
Seorang anak yang dilumpuhkan dan dianiaya oleh pemerkosa akan memiliki engram
jenis ini. Engram kontra pertahanan hidup mengandung antagonisme yang nyata
(actual) terhadap organisma tersebut. Kedua adalah engram pro-pertahanan hidup
( mendukung pertahanan hidup). Seorang anak yang teraniaya, jatuh sakit.
Kemudian diberitahu pada saat “tidak sadar” bahwa ia akan dirawat baik , bahwa
ia sangat dicintai. Engram ini bukanlah engram pertahanan hidup melainkan
engram pro-pertahanan hidup. Ketiga, engram emosi yang menyakitkan. Engram ini
diakibatkan kejutan akibat kehilangan yang tiba-tiba, misalnya kematian orang
yang dicintai.
Bank alam pikiran
reaktif hanya berisi engram. Alam pikiran ini berpikir dari sudut pandang
identik atau identitas-identitas, di mana semua hal identik dengan hal lainnya.
Contoh, jika alam pikiran analitik melakukan komputasi terhadap apel dan ulat,
maka yang dihasilkannya adalah sebagian apel ada yang mengandung ulat, sebagian
lain tidak, saat menggigit sebuah apel, kadang-kadang kita menemukan ulat di
dalamnya, kecuali apel sebelumnya sudah disemprot dengan baik, ulat akan
meninggalkan lubang dalam apel. Sedang alam pikiran reaktif akan melakukan
komputasi atas apel dan ulat sebagaimana isi bank engram sebagai berikut : apel
adalah ulat adalah gigitan adalah lubang dalam apel adalah lubang dalam semua
benda adalah apel dan selalu ada ulat adalah gigitan . Hasil komputasi alam
pikiran analitik mencakup komputasi kalkulus yang paling rumit, pergantian
logika simbolik yang selalu berubah, komputasi yang diperlukan untuk membangun
gedung atau membuat baju. Setiap persamaan matematik yang pernah dilihat
manusia berasal dari alam pikiran analitik dan dapat digunakan oleh alam pikiran
analitik untuk memecahkan masalah paling rutin sekalipun. Tetapi tidak halnya
dengan alam pikiran reaktif. Alat mini amat sangat sederhana sehingga bisa
dikatakan bahwa dalam operasinya ia hanya memiliki persamaan A=A=A=A.
c. Terapi Dianetik
Dianetik adalah satu
model terapi yang dapat digunakan untuk membuat seseorang yang memerlukan
dianetik (pre clear) menjadi clear dengan bantuan auditor ( pendengar) dalam
auditing (proses pemberian bantuan). Caranya adalah dengan membantu pre clear merecall
dalam proses menghadapi langsung emosi-emosi negatif yang terekam dalam engram
pada alam pikiran reaktif. Sehingga individu tersebut dapat merasakan
kebahagiaan dan kesuksesan. Seseorang yang clear (jiwa yang bersih) adalah
seseorang yang tidak mengalami repressi, bertindak berdasarkan self determinism
dan memiliki kemampuan untuk menanggapi, recal, return, berimajinasi, mencipta
dan memperhitungkan sesuatu. Tujuan dianetik adalah membantu individu menjadi
clear. Tujuan ini dapat dicapai dengan sedikit kesabaran, belajar
dan bekerja.
Dianetik dapat dilaksanakan melalui prosedur
sebagai berikut :
1. Yakinkan praclear
bahwa ia akan mengetahui semua yang terjadi. Sesi ini dilakukan dengan duduk
berhadapan dengan praclear. Pada praclear dikatakan bahwa ia akan tetap
menyadari semua yang terjadi dalam sesi ini.
2.
Perintah praclear untuk menutup mata
3. Memasang pembatal,
dengan mengatakan pada praclear bahwa semua yang terjadi pada saat auditing
tidak berpengaruh di luar auditing tersebut.
4. Kembalikan praclear ke
masa lalu, dengan meminta preclear mencari sebuah kejadian di masa lalu dengan
memintanya kembali ke awal kejadian tersebut.
5. Bekerjasama dengan
penata arsip untuk mendapatkan datanya, dengan mengatakan telusuri kejadiannya
dan katakan apa yang terjadi sewaktu praclear menelusurinya.
6. Ulangi kejadian, dengan
mengatakan kembali ke awal kejadian dan telusuri lagi dan cari data-data yang
lain yang bisa ditemuinya. Kemudian dilanjutkan dengan menelusuri kejadian lain
hingga clear merasa gembira saat menelusuri kejadian tersebut.
7.
Membawa praclear ke masa sekarang.
8.
Memberikan praclear perkataan “batal”.
9. Memulihkan seluruh
kesadaran praclear akan sekelilingnya.
III.
Perbandingan Dianetik dengan Konseling Traumatik
Penggunaan
dianetik sebagai terapi dalam trauma dapat dijelaskan dengan membandingkan
beberapa aspek yang terkait dengan pelaksanaan konseling traumatis sebagai
berikut :
a) Tujuan : tujuan dianetik
yaitu kondisi clear. Hal ini sejalan dengan tujuan konseling traumatis
pada umumnya yaitu pemulihan individu pada keadaan sebelum trauma.
Dianetik dapat melakukan clear terhadap engram yang berisi trauma
sehingga dapat menghadapi kejadian trauma tersebut secara rasional. Tetapi juga
sekaligus membantu individu untuk menjadi clear terhadap emosi negatif lain
yang tersimpan dalam engram yang membuatnya
teraberasi (
penyimpangan pemikiran rasional) yang ikut direcall di luar kejadian trauma
tersebut.
b) Fokus : konseling trauma fokus
kepada masalah yang terjadi dan dialami sekarang. Tetapi dianetik fokus kepada
masa lalu , saat kejadian tersebut berlangsung. Dengan mengalami kembali
kejadian yang membuat trauma di alam pikiran, individu diharapkan dapat
menemukan faktor penyebab masalah yang dialami saat ini. Sehingga ia bisa
menghadapi masalahnya sekarang dengan clear.
c)
Proses : konseling trauma dilakukan dengan tatap muka (face to face). Dianetik
juga dilakukan dengan tatap muka dengan kursi berhadapan langsung dan dengan
mata tertutup. Hal ini dilakukan agar individu dapat lebih mudah kembali
menelusuri kejadian di alam pikirannya tanpa terganggu dengan situasi pada saat
auditing berlangsung.
d) Pelaksana
: konseling dilakukan oleh konselor atau orang yang sudah dilatih untuk
melakukan prosedur konseling. Dianetik dilakukan oleh auditor, seseorang yang
sudah mendapat pelatihan auditing.
e)
Prosedur : konseling dilakukan atas beberapa tahapan (UPI, 2004). Pada
tahap pembuka : membangun hubungan, memperjelas dan mendefinisikan masalah
trauma, membuat penjajakan alternatif bantuan, menegosiasikan kontrak. Tahap
pertengahan : menjelajahi dan mengeksplorasi trauma, menjajaki agar hubungan
konseling selalu terpelihara, melaksanakan konseling sesuai kontrak. Tahap
akhir konseling :menurunnya kecemasan traumatik, munculnya perubahan perilaku
ke arah yang lebih baik, adanya tujuan hidup yang jelas, terjadinya perubahan
sikap. Dianetik dilakukan dengan sepuluh langkah yaitu meyakinkan praclear
terhadap prosedur, perintah menutup mata, memasang pembatal,
mengembalikan preclear ke masa lalu, bekerjasama menata arsip, mengulangi
kejadian, menemukan kejadian selanjutnya, membawa praclear ke masa sekarang,
memastikan praclear ada di masa sekarang, berikan kata pembatal dan pulihkan
kesadaran preclear.
Prosedur
dianetik dan konseling trauma dilakukan melalui tahapan. Pada konseling
dilakukan dengan mata terbuka tetapi pada dianetik mata terbuka. Auditor
menggiring praclear dengan kata-kata standar. Konseling dilakukan dengan
pembicaraan yang sepadan dengan arah yang dituju.
f) Waktu : Konseling
dapat dilakukan pada waktu yang disepakati. Dianetik juga dilakukan dalam waktu
yang disepakati, tetapi waktu persesi auditing tidak lebih dari dua jam dan
jarak antara auditing pertama ke auditing berikutnya sekitar 2- 4 hari.
g) Model : konseling trauma
dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yang relevan termasuk dengan
melibatkan significant person. Dianetik langsung berhubungan dengan pra clear.
h) Pelatihan : keterampilan
konseling sederhana dapat dilakukan kepada individu dengan karakteristik
tertentu dan akan bekerja sesuai dengan kemampuannya. Refral akan dilakukan
kepada konselor ahli bila menghadapi situasi yang di luar kemampuannya.
Dianetik dapat dilatihkan kepada orang dewasa yang berminat dengan melewati
tahapan workshop dan sertifikasi. Waktu yang diperlukan berkisar 24 sesi.
i) Alat :
konseling tidak memerlukan alat khusus. Dianetik memerlukan kartu prosedur
standar.
Berdasarkan
hasil analisa terhadap perbandingan dianetik dengan konseling trauma dapat
disimpulkan bahwa dianetik dapat digunakan sebagai satu teknik terapi dalam
trauma dengan ciri systematic desentisization ( penghapusan secara sistematis)
emosi-emosi negatif pada engram yang terdapat pada alam pikiran reaktif dan
menghadapinya secara rasional sehingga kejadian tersebut dapat di simpan pada
bank standar yang terdapat pada alam pikiran analitik.
Pengalaman
dalam menerapkan dianetik pada preclear korban gempa dan gelombang Tsunami di
Aceh Nanggro Darussalam menunjukkan bahwa dianetik dapat dilakukan pada
anak-anak usia remaja dan dewasa. Ada kemungkinan preclear mengalami kejadian
somatis pada saat auditing sehingga diperlukan keterampilan dalam menggiring
praclear kepada pikiran yang menyenangkan dan mencegah terjadinya lock (suatu
momen analitis dimana perspektif dari engram telah didekati, sehinga
merestimulasi engram tersebut atau membuatnya aktif dan perspektif saat ini
akan diinterpretasikan secara keliru oleh alam pikiran reaktif agar kondisi
yang sama yang dulu pernah menghasilkan rasa sakit fisik sekarang terulang
lagi). Tantangannya adalah muncul rasa kebosanan dan kelelahan pada praclear.
Auditor dapat mencermati keadaan ini karena kebutuhan individual sangat
bervariasi. Dianetik tidak bisa dilakukan dalam keadaan lapar, sedang
dalam pengaruh obat-obatan dan minuman keras. Untuk individu yang sedang
dalam perawatan medis yang memerlukan obat diperlukan waktu seminggu setelah
usai perawatan untuk menetraliser pengaruh obat terhadap alam pikiran.

0 komentar:
Posting Komentar